Insight

SEO & Branding

Ketika Nama Brand Anda "Salah Eja", Apakah Itu Masalah?

Hans·26 Maret 2026·4 menit baca
Ketika Nama Brand Anda "Salah Eja", Apakah Itu Masalah?

Beberapa waktu lalu, seorang kolega di Vidio menghubungi saya di tengah hari. Pertanyaannya sederhana, tapi membuat saya berpikir cukup lama.

Saya jadi memikirkan hal seperti ini: seberapa besar sebenarnya pengaruhnya ke branding kita? Saat ini, apakah kemiripan penyebutan 'Vidio' sebagai brand dengan 'video' masih jadi kendala di SEO? Kalau iya, seberapa signifikan?

Konteksnya: kalau orang mengetik atau menyebut "Vidio", mayoritas masih mengasosiasikannya dengan "video" sebagai format, bukan Vidio sebagai platform streaming. Tapi begitu diberi konteks "aplikasi streaming", orang langsung menangkap.

Ini adalah salah satu dari banyak pertanyaan yang sering saya terima dari tim lain. Pertanyaan yang di permukaannya terlihat sederhana, tapi butuh beberapa lapisan berpikir untuk dijawab dengan benar.

Pertanyaan 1: apakah ini masalah SEO yang besar?

Jawaban singkatnya: sudah tidak terlalu besar, tapi ada nuance-nya.

Google di 2026 sudah sangat pintar memahami branded intent. Ketika seseorang ngetik "vidio nonton bola" atau "vidio Premier League", Google sudah bisa membedakan bahwa ini adalah brand query, bukan pencarian soal format video secara umum.

Yang masih perlu diperhatikan ada dua hal.

Pertama, typo traffic leakage. Orang yang sebenarnya mau cari Vidio, tapi ngetiknya "video streaming Indonesia", bisa nyasar ke kompetitor. Kemungkinannya kecil tapi tetap ada.

Kedua, Brand SERP pollution yang sekaligus bisa jadi keuntungan. Konten pihak ketiga yang salah ngetik "vidio" bisa beririsan dengan hasil pencarian brand Vidio. Ini bisa jadi noise, tapi juga bisa jadi organic discovery.

Tapi secara keseluruhan, untuk brand dengan domain authority setinggi Vidio di Indonesia, kondisi SEO-nya cukup aman. Yang lebih worth dikejar adalah konsistensi entity building, bukan khawatir soal name confusion.

Pertanyaan 2: bagaimana kalau justru kita manfaatkan?

Kolega saya juga bertanya soal ide video commercial yang secara playful "mengeksploitasi" kemiripan ejaan Vidio dan video. Apakah ini bisa meningkatkan brand recall?

Menurut saya bisa, kalau dieksekusi dengan benar.

Analoginya, ambil Tumblr. Setiap kali seseorang membicarakan tumbler botol minum, ada bagian kecil otak yang terasosiasi ke platform blog itu. Bukan karena mereka bingung, tapi karena spelling yang sedikit berbeda itu jadi semacam memory hook yang tidak disengaja.

Kalau Vidio bikin konten yang dengan percaya diri bilang "iya, nama kita Vidio bukan Video, tapi kita yang paling tahu soal video", itu bisa jadi beberapa hal sekaligus: sesuatu yang memorable, bahan obrolan yang relatable, dan yang paling penting, sebuah signature yang di-own dengan percaya diri.

Kuncinya satu: tone-nya harus confident, bukan defensif. "We own this", bukan "maaf nama kita agak aneh."

Ini salah satu hal yang saya sukai dari pertanyaan yang datang dari rekan kerja. Pertanyaan yang terlihat operasional, tapi kalau digali lebih dalam ternyata menyentuh hal-hal yang lebih fundamental soal brand, persepsi, dan cara orang mengingat sesuatu.

Butuh bantuan menerapkan ini untuk bisnis Anda?

Hubungi Saya